Beranda › Artikel

Apakah marketing terancam AI?

Bagian produksinya sudah berubah drastis dan tidak akan kembali. Tapi ada lapisan di dalam marketing yang justru menjadi lebih langka dan lebih bernilai — dan itu adalah lapisan yang paling sedikit diajarkan di kelas.

1 Agustus 2026 · Bacaan 6 menit

Marketing adalah salah satu bidang yang paling awal dan paling terlihat terdampak AI. Konten iklan, posting media sosial, email campaign, laporan performa — semuanya sudah bisa dibuat lebih cepat dari sebelumnya.

Tapi ini bukan cerita tentang profesi yang hilang. Ini cerita tentang profesi yang tengah membelah diri menjadi dua kelompok yang sangat berbeda nilainya.

Bagian yang paling cepat terkikis

Yang perlu diperhatikan: ini bukan pekerjaan kecil. Di banyak perusahaan, inilah isi sebagian besar hari kerja marketing executive junior — dan inilah cara mereka "belajar dengan mengerjakan".

Bagian yang justru menguat

Marketing yang bertahan bukan yang produksinya tercepat — melainkan yang pemahamannya terhadap manusia paling dalam.

Masalah sebenarnya: tempat berlatih menyempit

Selama ini, strategi marketing dibangun di atas ribuan jam mengerjakan eksekusi. Dari menulis copy, Anda belajar apa yang beresonansi. Dari mengelola kampanye, Anda belajar apa yang bekerja di skala. Dari membuat laporan, Anda belajar membaca data dengan kritis.

Ketika AI mengambil alih pekerjaan eksekusi itu, "tempat latihan" untuk membangun intuisi strategis menjadi lebih terbatas. Yang dulu bisa dipelajari secara alami lewat pengulangan kini harus dipelajari secara sadar dan lebih cepat.

Kalau Anda atau anak Anda tetap mengambil jurusan ini

Marketing masih relevan — tapi profil yang relevan bergeser dengan cepat. Yang perlu berbeda:

  1. Bangun pemahaman terhadap manusia, bukan hanya platform. Psikologi konsumen, perilaku keputusan, budaya — ini adalah fondasi dari marketing yang bertahan, bukan sekadar hafal fitur Instagram terbaru.
  2. Latih penilaian kreatif, bukan hanya eksekusi. Kemampuan untuk menilai apakah sebuah kampanye akan beresonansi — dan menjelaskan mengapa — jauh lebih sulit dikembangkan daripada kemampuan membuat kontennya.
  3. Pelajari data untuk menginformasikan keputusan, bukan untuk menjadi data analis. Marketer yang bisa membaca angka dan mengambil keputusan strategis darinya jauh lebih bernilai daripada yang hanya melaporkannya.
  4. Kembangkan keahlian di area yang menggabungkan marketing dengan bidang lain — psikologi perilaku, komunikasi krisis, marketing berbasis komunitas, atau brand untuk segmen tertentu yang membutuhkan pemahaman mendalam.

Pertanyaan yang lebih menentukan

Marketing yang baik dimulai dari rasa ingin tahu yang tulus tentang mengapa orang membuat keputusan tertentu. Sebelum bertanya apakah jurusan ini aman, tanyakan: apakah anak Anda senang mengamati perilaku manusia dan mencari tahu apa yang ada di baliknya? Itu lebih menentukan dari pilihan konsentrasi atau mata kuliah pilihannya.

Ringkasnya

Lanjut baca

Apakah psikologi terancam AI?

Sebagian fungsinya bisa dibantu — tapi justru ada bagian yang semakin dibutuhkan.

Jurusan kuliah yang tidak bisa digantikan AI

Gambaran lengkap rumpun jurusan yang lebih tahan, dan cara menyaringnya.

Sebelum memilih jurusan

Test Bakat Minat

3 kali tes berbasis RIASEC, lengkap dengan rekomendasi jurusan dan universitas di 11 negara — supaya pilihannya tidak hanya tahan, tapi cocok.

Rp990rb
Lihat detail tes →